Langsung ke konten utama

About Me

Menjelaskan diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah, bukan? Tidak mudah, tapi harus mencoba. Oke, dimulai dari pendapat orang lain. Kesan pertama ketika bertemu denganku adalah jutek, judes, dan galak. Kalau bicara nyelekit. Namun, banyak yang bilang kalau aku bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, adaptif, dan profesional. Wah, aku tersanjung.

Baiklah, mari instrospeksi diri. Galak, judes, jutek? Mungkin karena mataku sipit dan tatapanku tajam, jadi terlihat seperti itu. Jutek, iya kalau kamu merupakan orang yang sangat mengesalkan bagiku. Contohnya, datang ketika membutuhkan, menghilang ketika dibutuhkan.

Kemudian.. Cuek, tapi peduli. Ah, bagaimana itu? Apabila dilihat dari luar, memang aku cuek, tetapi kalau kamu merupakan orang yang berharga bagiku dan mampu menggetarkan hati (yah, setidaknya sedikit menarik simpatiku), aku akan menjadi peduli padamu. Pernah, aku diam-diam peduli dengan seseorang, sempat mengirim bunga dan ucapan ke dia. Bagaimana responnya? Begini, ehm, “Kamu ternyata sangat peduli dan bisa romantis juga ya, terima kasih kata-katanya, kamu berbakat jadi content writer”.

Bicara nyelekit? Bisa ya, bisa tidak. Mungkin aku pandai memainkan kata, atau bisa jadi irit kata, istilahnya sekali ngomong nusuk-nya terasa.

Aku bisa menempatkan diri sebagai pendengar dan pembicara. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang lebih menjadi pendengar, aku akan banyak bicara. Apabil aku bertemu dengan seseorang yang terlihat ingin mengungkapkan keluh kesah, aku akan menjadi pendengar.

Perfeksionis? Entahlah. Sepertinya aku tidak perfeksionis. Aku merasa baik-baik saja dan tidak masalah ketika suatu hal tidak serapi dan sesempurna yang aku bayangkan. Aku tipe orang yang ketika banyak tugas, harus membuat jadwal harian – lengkap dengan waktunya. Sekitar 85% akan selesai sesuai jadwal, sisanya tidak selesai karena distraksi. Aku mudah terdistraksi ketika bekerja di tengah keramaian, lebih nyaman sendiri, di tempat yang sepi.

Adaptif? Yap. Betul. Semudah itu aku membaur dalam keramaian, dengan orang baru, dan lingkungan baru. Profesional? Paling bener sih ini. Sebesar apapun kamu sangat menyebalkan, aku pasti tidak akan menganggapmu sebagai musuh ketika kita dalam satu proyek yang sama.

Kamu tau five love language? Posisi teratas adalah quality time, diikuti physical touch. Yap, aku sangat menghargai segala quality time yang dapat aku lakukan bersama orang-orang yang terkasih bagiku.

“Dek! Piringnya taruh wastafel dulu!”

Ah, itu teriakan ibu. “Oke Bu, matiin laptop dulu!”

About me lainnya, aku paling malas mencuci piring. Lebih baik aku mencuci baju, menjemur, dan menyetrikanya. Serius deh. Mencuci piring itu, menyebalkan. Pokoknya, menyebalkan.