Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

Wisuda

Hari ini, tumben sekali langit berwarna biru. Cerah. Tak satu pun terlihat awan. Ngomong-omong , pernah kah kalian berharap akan kerja sebuah takdir? Takdir yang memulai, takdir yang memisahkan, dan takdir yang kembali menyatukan. ** Aku teringat kala itu. Kamu menghampiriku di kantin sekolah. Dengan alasan meja yang lain penuh dan aku sedang duduk sendiri, kamu pun mengajakku berbincang. Tak ku pungkiri bahwa aku tertarik denganmu. Takdir kita dimulai dari sini. ** Entah sudah berapa tahun kita habiskan bersama, dengan banyak kenangan di Ibu Kota. Ah, jika aku jabarkan, pasti kamu semakin merindu saat-saat itu. “Hey, kita besok wisuda bareng ya!”   Aku menjulurkan lidah, mengingat ia selalu mengeluh salah jurusan, sedangkan aku memang mencintai jurusanku. “Nggak mau, aku mau lulus duluan.” Kamu tertawa kencang, “Wisuda bareng, yudisiumnya duluan kamu.” ** Kali ini aku lah yang tertawa kencang. Ternyata, kita memang akan wisuda bareng. Yaa, benar katamu, aku yudis...

Ayah dan Ibu

“Ayah! Handuknya taruh jemuran!” Itu teriakan ibu, setiap pagi. Aku heran, kenapa sih ayah sesusah itu naruh handuk di jemuran? Padahal sudah disediain jemuran di depan kamar mandi, tetap saja handuknya dibawa ke kamar lalu ditaruh di kasur. Jangan-jangan, ayah menikmati omelan ibu tiap pagi? Yaaa, walau sudah teriak begitu, ibu tetap ambil handuk ayah, lalu dijemur. ** “Bu, kemeja biru di lemari mana?”                Kalau itu, pertanyaan ayah setiap akan ada meeting. Padahal ya, setiap aku bantu ibu untuk merapihkan lemari, sudah ditata bahwa kemeja polosan khusus meeting ada di lemari bagian atas. Ayah, ayah, apa susahnya dicari dulu sih sebelum tanya? Setelah nunggu lima menit, biasanya ibu akan memberikan tatapan tajam ke ayah, lalu mengambil kemeja yang dimaksud. Tentu saja dengan warna yang matching dengan dasi. Ayah? Cengengesan saja. ** “Yah, nanti tolong beli mozarella yang sama plek seperti yang...

Kala Rindu, Kita Bertemu

        Secangkir cokelas panas menemani kesendirian di kafe nan ramai ini. Pojok kafe, derasnya hujan, dan tatapan tak terartikan yang melihat seorang perempuan duduk di pojokan ditemani oleh sebuah laptop. Perpaduan yang sangat pas. “Ada pesanan tambahan, Kak?” Aku tersadar dari lamunanku, mengangguk pada barista yang mendatangiku, “Iya, cokelat panas satu.” “Tumben nggak bersama cowoknya, Kak? Nggak kayak dulu.” Aku tersenyum kecil, “Dia sedang sibuk, Mas.” Selang beberapa lama, cokelat panas telah tersaji di depanku. Sembari mengaduk cokelas panas dan menikmati aroma khas ini, aku teringat dirimu. Tentu saja, kamu pasti sedang sibuk. ** Halo, apa kabar kamu? Masih ingat kah awal kita bertemu? Wah, aku masih ingat tentunya, saat itu kamu menghampiriku yang sedang duduk di barisan belakang. Saat itu sakit di kaki kambuh. Kamu yang tidak sedang sibuk, mengajakku berbincang. Cuek, tapi perhatian. Lucu dan membuat nyaman. Kesan pertamaku padamu ...

Kenangan

Siapa yang tidak mengetahui Yogyakarta? Kota yang banyak sekolahnya, dikenal sebagai kota pelajar. Jika mengetahui Yogyakarta, pasti juga mengetahui Malioboro, kan? Sebuah ikon Kota Yogyakarta, yang terkenal romansa romantisnya. Malioboro, menyimpan banyak kenangan tentangmu. Iya, kamu. ** Menjadi anak rantau, hal yang kali pertama terpikir adalah bagaimana cara bertahan hidup, bagaimana mendapatkan teman, dan bagaimana agar kuliah tidak terbelengkelai. Sore itu, aku mendapat pesan dari salah satu kakak tingkat tentang acara yang diadakan oleh himpunan mahasiswa. Kami diminta ke auditorium fakultas dalam waktu kurang dari 30 menit. Ternyata, di auditorium sudah banyak orang ketika aku datang 15 menit kemudian. Tepat 30 menit yang dijanjikan, muncul pesan baru. Kami diminta motoran ke Malioboro. Hah? Aku tidak ada motor. Langsung saja, auditorium menjadi gaduh. Mahasiswa saling bertanya apakah ada yang bawa motor? Boleh nebeng nggak? Ngomong-omong, kalian pernah dengar anak ayam b...

Bahagia

Matahari bersinar cerah, menandakan bahwa aku harus memulai hari secerah matahari. Gadis itu menghampiriku, tanpa babibu, dia menceritakan segala hal yang menjadi keluh kesahnya hari kemarin. Ah, masih pagi dan gadis itu sudah mengguyurkan berbagai keluh kesah. Tiba-tiba dia menangis di tengah ceritanya. Aku menepuk punggungnya perlahan, mengucapkan satu dua kalimat penghiburan. Semua akan baik-baik saja. Selanjutnya, hanya keheningan yang ada di antara kami. Tak lama kemudian, gadis itu tersenyum, mengucapkan terima kasih karena aku telah mendengarkan keluh kesahnya. Aku dapat merasakan ada sedikit beban yang terangkat dari bahunya.           Saat itu, aku menikmati me time di taman perumahan. Berbagai bunga yang aku tidak mengetahui jenisnya, mulai bermekaran. Cantik. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru taman. Ah, ada nenek penjual kerupuk, sedang menunggu pembeli bersama cucu satu-satunya. Aku menghampiri nenek tersebut, membeli...

About Me

Menjelaskan diri sendiri merupakan hal yang tidak mudah, bukan? Tidak mudah, tapi harus mencoba. Oke, dimulai dari pendapat orang lain. Kesan pertama ketika bertemu denganku adalah jutek, judes, dan galak. Kalau bicara nyelekit . Namun, banyak yang bilang kalau aku bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, adaptif, dan profesional. Wah, aku tersanjung. Baiklah, mari instrospeksi diri. Galak, judes, jutek? Mungkin karena mataku sipit dan tatapanku tajam, jadi terlihat seperti itu. Jutek, iya kalau kamu merupakan orang yang sangat mengesalkan bagiku. Contohnya, datang ketika membutuhkan, menghilang ketika dibutuhkan. Kemudian.. Cuek, tapi peduli. Ah, bagaimana itu? Apabila dilihat dari luar, memang aku cuek, tetapi kalau kamu merupakan orang yang berharga bagiku dan mampu menggetarkan hati (yah, setidaknya sedikit menarik simpatiku), aku akan menjadi peduli padamu. Pernah, aku diam-diam peduli dengan seseorang, sempat mengirim bunga dan ucapan ke dia. Bagaimana responnya? B...