Matahari bersinar cerah, menandakan bahwa aku harus
memulai hari secerah matahari. Gadis itu menghampiriku, tanpa babibu, dia
menceritakan segala hal yang menjadi keluh kesahnya hari kemarin. Ah, masih
pagi dan gadis itu sudah mengguyurkan berbagai keluh kesah. Tiba-tiba dia
menangis di tengah ceritanya. Aku menepuk punggungnya perlahan, mengucapkan
satu dua kalimat penghiburan. Semua akan baik-baik saja. Selanjutnya, hanya
keheningan yang ada di antara kami. Tak lama kemudian, gadis itu tersenyum,
mengucapkan terima kasih karena aku telah mendengarkan keluh kesahnya. Aku
dapat merasakan ada sedikit beban yang terangkat dari bahunya.
Saat itu, aku menikmati me
time di taman perumahan. Berbagai bunga yang aku tidak mengetahui jenisnya,
mulai bermekaran. Cantik. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru taman.
Ah, ada nenek penjual kerupuk, sedang menunggu pembeli bersama cucu
satu-satunya. Aku menghampiri nenek tersebut, membeli kerupuk, dan nenek
penjual kerupuk mulai menceritakan kisah hidupnya. Aku sudah hafal setiap
bagian cerita nenek itu, tetapi tetap saja mendengarkan kisahnya membuatku
tertarik dan terus memperhatikan. Seperti biasanya, aku memberikan roti,
vitamin, dan susu kepada cucu-nya. Senyum lebar sang cucu, menghangatkan hati.
Mendengarkan cerita dan
memberi, merupakan hal-hal yang membuatku bahagia. Aku merasakan empati ketika
mendengarkan cerita dari orang lain, seakan aku merasakan ada di posisinya.
Namun, ketika kisahnya sedih dan hanya membutuhkan pendengar, tentunya aku
hanya sebagai pendengar, aku pun merasa sedih. Akhri dari dia bercerita akan
memberikan senyum lega, membuatku bahagia, bahwa dia masih mempunyai tempat
untuk bercerita. Seringkali aku mendapat suatu pelajaran berharga dari kisah
hidup orang lain, yang tidak aku alami. Memberi, memberikan perasaan bahagia
ketika aku melakukan hal tersebut. Aku merasa berguna, senyum bahagia ketika
menerima pemberianku pun membuat aku tersenyum.
Aku menoleh, laki-laki
yang kurindukan tersenyum simpul. Dia datang, pastinya membawa banyak cerita
baru. Ya, aku siap mendengarkan kisahnya untuk kesekian kalinya.