Langsung ke konten utama

[J8] Pengalaman Wawancara MT HR– Lippo Karawaci

     Hulla! Kembali lagi dalam sesi asal apply di JobStreet. Tumben banget ini aku ada beberapa panggilan tembus dari JobStreet. Tiada badai, tiada angin, tiba-tiba ada telepon dari nomor kantor yang membuat panik setiap jobseeker yang sudah kepikiran “ini dari siapa? Aku daftar apa dan daftar di mana?” bahkan sebelum mengangkatnya. Ternyata dari HR Lippo Karawaci yang meminta waktu untuk interview by phone. Karena pas banget di depan aku ada laptop, aku langusung googling nama perusahannya. Hehehe.

Interview berlangsung selama 20 menit, HR-nya asik banget diajak ngobrol, tapi ya pertanyaannya standar sih, seperti apa yang kamu ketahui tentang posisi dan perusahaan ini, kenapa kamu apply di posisi dan perusahaan ini, kamu dari kimia kenapa ambil HR, kamu ada  pengalaman di HR kah, tolong ceritakan pengalaman selama jadi HR dong, untuk interaksi dengan orang lain kamu ada pengalaman nggak selama organisasi, jadi HR emang minat atau coba-coba atau  emang ingin berkarir di sini? Interview ditutup dengan penjelasan dari HR tentang jobdesc dan kegiatan selama MT.

Sekitar seminggu setelah interview by phone, aku dapat telefon dari HR tersebut tapi aku lagi tidur dan HP-nya aku silent. Aku menangis sejadi-jadinya karena keteledoranku. Sejak itu aku nggak pernah silent HP. Aku langsung email lewat email korporatnya, dengan harapan dibaca.

Tuhan masih memberi kesempatan untukku. Sekitar seminggu setelahnya, aku dihubungi kembali, dan diberitahu untuk interview panelis dengan yang lain, jadwalnya menyusul. Persiapkan tentang apa yang kamu ketahui tentang HR korporat. Aku langsung DM salah satu recruiter di Twitter dan mendapat beberapa wejangan untuk dipelajari. Sekitar seminggu, aku follow up lewat email tentang waktu interview.

Sekitar dua minggu setelahnya, aku kembali ditelepon, ibu HR menjelaskan bahwa kami harus ke Karawaci untuk presentasi studi kasus dan interview! Pesawat dibayarin, apartemen disediain, pokoknya tinggal berangkat, datang, dan pulang. Saat itu ditelepon kamis. Rencananya sih senin berangkat via pesawat, selasa interview dan studi kasus selama 4-5 jam, dan selasa sore pulang. Namun, aku dilarang untuk pesan tiket sendiri karena jadwalnya masih belum pasti.

Jumat sore, aku ditelepon kalau jadwal diundur. Olrait. Feeling aku udah nggak enak. Sepertinya mah ini di-cancel. Tentu saja, terkadang feeling tuh nggak boleh diabaikan. Hingga tulisan ini diketik dan dipublikasi, tidak ada kabar selanjutnya.