Langsung ke konten utama

Postingan

[J10] Pengalaman Tes QC – Orang Tua Group

Hai! Welcome back with prunusverecunda! Sudahi dulu sedihnya karena posting-an sebelumnya sangat menyesakkan hati. Aku mendapat email dari OT Group untuk piskotes online. Yap, aku ingat kok daftar OT darimana, tentunya dari JobStreet! Yak, langsung saja, aku melakukan psikotes yang sangat banyak. Seperti psikotest kebanyakan kok, ya ada hitungan, deret, gambar, kraeplin pauli, dan apa saja aku lupa. Psikotest berlangsung selama empat jam. Lama banget, aku sampai pegel di depan laptop sampai 4 jam hahaha. Sekitar dua jam setelah psikotes, aku ditelfon oleh HR yang menghubungi lewat email, ada lowongan QC di Jawa Timur. Setelah bertanya dan mendapatkan informasi, aku menolak posisi QC di Jawa Timur ini. Aku berpesan, jika ada lowongan atau slot di Daan Mogot, boleh menghubungi saya. Hari selanjutnya, aku dapat kabar kalau aku nggak lolos psikotes dan tidak bisa daftar selama setahun kedepan. Aku senang dengan perusahaan yang memberi kabar gini. Lolos nggak lolos ya tetap dikabarin. A...

[J9] Pengalaman Wawancara Customer Relationship Officer – BCA

Sebelum membaca bagian ini, hendaknya kalian membaca bagian [J5]Pengalaman Tes SHL dan Wawancara MDP – BCA dulu yah. Kenapa harus dibaca sih, kan itu panjang banget. Ya karena saling berkaitan, nggak lucu tiba-tiba aku dapat interview CRO BCA. Oke, sudah dibaca kan? Sebulan setelah pengumuman pukul 21.00 WIB yang mempupuskan harapan, aku dapat pesan whatsapp dari HR Kanwil Semarang, untuk interview RO (yang setelah ini diganti menjadi CRO – Customer Relationship Officer ). Asaku kembali melambung. Ada waktu satu minggu untuk persiapan. Bersama Mas Pacar, aku belajar tentang Relationship Officer , tentang marketing, bagaimana pengalaman RO tuh, produk-produk apa saja yang diberikan oleh BCA melalui RO, dan hal lain yang terkait. Thank to Mas Pacar yang dengan sabar mengajari aku tentang Relationship Officer dan tentunya menjalin Relationship denganku ini. Halah apaan. Interview dilakukan melalui video call whatsapp. Pertanyaan standar juga ternyata, tidak menyebut produk-p...

Wisuda

Hari ini, tumben sekali langit berwarna biru. Cerah. Tak satu pun terlihat awan. Ngomong-omong , pernah kah kalian berharap akan kerja sebuah takdir? Takdir yang memulai, takdir yang memisahkan, dan takdir yang kembali menyatukan. ** Aku teringat kala itu. Kamu menghampiriku di kantin sekolah. Dengan alasan meja yang lain penuh dan aku sedang duduk sendiri, kamu pun mengajakku berbincang. Tak ku pungkiri bahwa aku tertarik denganmu. Takdir kita dimulai dari sini. ** Entah sudah berapa tahun kita habiskan bersama, dengan banyak kenangan di Ibu Kota. Ah, jika aku jabarkan, pasti kamu semakin merindu saat-saat itu. “Hey, kita besok wisuda bareng ya!”   Aku menjulurkan lidah, mengingat ia selalu mengeluh salah jurusan, sedangkan aku memang mencintai jurusanku. “Nggak mau, aku mau lulus duluan.” Kamu tertawa kencang, “Wisuda bareng, yudisiumnya duluan kamu.” ** Kali ini aku lah yang tertawa kencang. Ternyata, kita memang akan wisuda bareng. Yaa, benar katamu, aku yudis...

Ayah dan Ibu

“Ayah! Handuknya taruh jemuran!” Itu teriakan ibu, setiap pagi. Aku heran, kenapa sih ayah sesusah itu naruh handuk di jemuran? Padahal sudah disediain jemuran di depan kamar mandi, tetap saja handuknya dibawa ke kamar lalu ditaruh di kasur. Jangan-jangan, ayah menikmati omelan ibu tiap pagi? Yaaa, walau sudah teriak begitu, ibu tetap ambil handuk ayah, lalu dijemur. ** “Bu, kemeja biru di lemari mana?”                Kalau itu, pertanyaan ayah setiap akan ada meeting. Padahal ya, setiap aku bantu ibu untuk merapihkan lemari, sudah ditata bahwa kemeja polosan khusus meeting ada di lemari bagian atas. Ayah, ayah, apa susahnya dicari dulu sih sebelum tanya? Setelah nunggu lima menit, biasanya ibu akan memberikan tatapan tajam ke ayah, lalu mengambil kemeja yang dimaksud. Tentu saja dengan warna yang matching dengan dasi. Ayah? Cengengesan saja. ** “Yah, nanti tolong beli mozarella yang sama plek seperti yang...

Letter to You

Dear you, Mungkin aneh jika suatu saat kamu membaca artikel ala surat di blog ini, secara sengaja atau tidak sengaja. Mungkin juga kamu akan sangat PD mengira bahwa artikel ala surat ini ditujukan padamu. Mungkin saja, kamu benar jika mengasumsikan bahwa artikel ala surat ini memang untukmu. Kamu pasti pernah membaca chatku atau mendengar aku berkata kalau aku sangat beruntung bisa menjadi salah satu orang terdekatmu. Kamu sabar, kamu pengertian, tapi kamu mengesalkan! Seringkali kita bertengkar hal-hal sepele, seperti aku sangat benci dengan orang yang menunda pembelian untuk kesehatan, contohnya membeli masker, vitamin, dan madu, pokoknya kesel banget sama   yang perhitungan masalah itu. Eh, kamu seringkali seperti itu. Hari ini bertengkar, besoknya baikan. Nyebelin banget ya? Ehm, kembali aku mengingatkan padamu jika aku sangat beruntung menjadi salah satu orang terdekatmu. Aku beruntung karena kamu sangat sabar dan dapat handle aku ketika aku dalam mood swing yang...

Aku dan Keunikan Rata-Rataku

Aku ingin sedikit bercerita, mengenai bagaimana aku sangat dilindungi dan diberkati oleh Tuhan. Aku merupakan manusia rata-rata. Tidak menonjol di satu bidang tertentu. Pastinya, keunikan ini merupakan hadiah dari Tuhan. Aku bisa di IPA, tapi tidak menguasai semua – matematika buruk, sedikit OK di Fisika, agak bisa diandalkan di Kimia dan Biologi. Aku bisa di IPS, tapi tidak menguasai semua – paling tidak suka dan benci Geografi, lumayan terbukti di Ekonomi, dan mampu menghafal Sejarah dalam jangka waktu singkat. Aku bisa di seni, tapi sekadar bisa saja, tidak menguasai – aku bisa bermain alat musik, aku bisa bernyanyi walau suaraku fals, setidaknya aku bisa ambil nada, dan aku bisa menggambar. Aku bisa di Bahasa, mampu memahami sastra dan EYD Indonesia, tapi bodoh dalam speaking Inggris. Aku sering merasa bingung dengan keunikan-ku ini. Aku bisa, sekadar bisa, tapi aku tidak punya sesuatu yang bisa aku tonjolkan. Tak jarang aku iri dengan teman-teman yang menguasai beberapa di ant...

Tentang Pengambilan Keputusan

Seo Dal Mi adalah karakter yang diperankan oleh Mbak Suzy di drama Start Up. Hingga tulisan ini dibuat, masih on going hingga episode 10. Ada satu hal yang sangat ditonjolkan pada diri Dal Mi-ssi. Selama aku nonton drama korea, jarang sih ada suatu hal khas yang ditonjolkan di satu karakter yang sampai menggelitik diri sendiri. Pengambilan keputusan. Dal Mi-ssi tidak pernah menyesali apa keputusan yang telah dia ambil. Banyak hal yang mungkin menguntungkan kalau dia mengambil keputusan lain. Misalnya, jika dia memilih ibunya, dia akan mendapat privilege berupa kekayaan, pendidikan, dan lingkungan. Jika dia memilih meneruskan kuliah, ada kemungkinan dia bisa beberapa langkah lebih maju. Jika dia memilih tidak keluar dari kerjaan, pasti dia masih asik kerja di perusahaan itu. Namun, Dal Mi-ssi tidak mengambil keputusan itu. Hingga episode ini, dia tidak menyesali keputusan yang telah dia ambil. Dia malah ingin membuktikan, ini loh keputusanku gak salah, malah jauh lebih baik daripada ...